Di media sosial, seseorang yang sering menunjukkan pencapaian terkadang mudah dianggap sedang mencari validasi. Ketika seseorang menceritakan karya, pengalaman, jumlah pengguna, atau pencapaian yang pernah diraih, tidak sedikit yang langsung beranggapan bahwa orang tersebut ingin mendapatkan pengakuan.
Padahal, tidak semua orang yang menunjukkan pencapaiannya sedang haus validasi.
Ada kalanya seseorang hanya sedang menceritakan sesuatu yang memang sudah dibuktikan oleh karya.
Ingin Diakui Berbeda dengan Sudah Mendapat Pengakuan
Keinginan untuk mendapatkan pengakuan sebenarnya merupakan hal yang wajar. Hampir semua orang tentu senang ketika hasil kerja kerasnya dihargai.
Namun, ada perbedaan antara ingin mendapatkan pengakuan dan bergantung pada pengakuan.
Orang yang terlalu bergantung pada validasi biasanya menjadikan pujian orang lain sebagai ukuran utama terhadap dirinya. Ketika mendapat banyak pujian, ia merasa percaya diri. Sebaliknya, ketika tidak mendapatkan respons yang diharapkan, rasa percaya dirinya bisa ikut menurun.
Sementara itu, seseorang yang sudah memiliki hasil nyata bisa saja menceritakan pencapaiannya tanpa menjadikan komentar orang lain sebagai ukuran utama dirinya.
Misalnya seorang kreator membuat sebuah karya dan ternyata digunakan oleh banyak orang. Ketika ia menceritakan pengalaman tersebut, bukan berarti ia sedang meminta orang lain mengatakan bahwa dirinya hebat.
Ia hanya sedang menunjukkan sesuatu yang memang sudah terjadi.
Karyanya sudah berbicara lebih dahulu.
Tidak Semua Pencapaian Harus Disembunyikan
Ada anggapan bahwa orang yang benar-benar hebat seharusnya tidak perlu menunjukkan pencapaiannya.
Nasihat seperti “jangan terlalu terang di tempat yang terang” mungkin bisa menjadi pengingat agar seseorang tidak berlebihan dalam menonjolkan diri. Namun, kalimat tersebut tidak harus menjadi aturan bahwa seseorang harus menyembunyikan kemampuan atau pencapaiannya.
Terutama bagi seorang kreator.
Karya merupakan bagian dari identitas seorang kreator. Portofolio, pengalaman, jumlah pengguna, respons terhadap karya, dan pencapaian lainnya merupakan bagian dari perjalanan yang memang bisa diceritakan.
Menunjukkan karya bukan berarti menyombongkan diri.
Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana seseorang menyampaikannya.
Ada perbedaan antara mengatakan, “Saya lebih hebat daripada kreator lain,” dengan mengatakan, “Ini karya yang pernah saya buat dan ternyata mendapatkan respons yang baik dari pengguna.”
Keduanya memiliki makna yang berbeda.
Menceritakan pengalaman dan pencapaian tidak harus disertai dengan merendahkan orang lain.
Karya yang Berbicara Lebih Kuat daripada Pengakuan
Dalam dunia kreator, pengakuan terbaik tidak selalu datang dalam bentuk pujian.
Karya yang digunakan orang lain, mendapatkan respons, dibagikan, atau memberikan manfaat juga merupakan bentuk pengakuan yang nyata.
Seorang kreator efek, misalnya, tidak harus terus mengatakan bahwa dirinya hebat jika efek yang dibuatnya memang digunakan banyak orang.
Jumlah penggunaan, komentar, respons pengguna, dan perjalanan sebuah karya sudah bisa memberikan gambaran mengenai penerimaan terhadap karya tersebut.
Itulah mengapa seseorang tidak selalu harus mengejar validasi.
Ketika karya memiliki bukti, karya itu sendiri yang berbicara.
Pujian tentu menyenangkan. Kritik juga merupakan bagian dari proses. Namun, keduanya tidak seharusnya menjadi satu-satunya ukuran untuk menentukan nilai diri seorang kreator.
Jangan Mengecilkan Diri Hanya Agar Tidak Terlihat Menonjol
Kadang-kadang seseorang terlalu takut dianggap sombong sampai akhirnya memilih untuk mengecilkan kemampuan dirinya sendiri.
Padahal, rendah hati bukan berarti harus berpura-pura tidak memiliki kemampuan.
Kalau memang sudah berpengalaman, tidak ada salahnya menceritakan pengalaman tersebut.
Kalau memang sudah menghasilkan karya, tidak ada salahnya menunjukkan karya tersebut.
Kalau memang pernah mendapatkan pencapaian, tidak ada salahnya menceritakannya secara proporsional.
Yang penting adalah tetap menghargai orang lain.
Seseorang bisa percaya diri tanpa harus merendahkan orang lain. Seseorang juga bisa menceritakan keberhasilannya tanpa menganggap dirinya paling hebat.
Percaya diri dan sombong adalah dua hal yang berbeda.
Validasi Seharusnya Bukan Tujuan Utama
Validasi dari orang lain memang menyenangkan, tetapi jangan sampai menjadi tujuan utama dalam berkarya.
Seorang kreator sebaiknya tetap mampu berkarya meskipun tidak selalu mendapatkan komentar positif.
Sebab, jika setiap karya dibuat hanya demi mendapatkan pujian, kreativitas bisa berubah menjadi perlombaan mencari perhatian.
Sebaliknya, jika seseorang berkarya karena memang menyukai prosesnya, ingin menghasilkan sesuatu, dan terus mengembangkan kemampuannya, pengakuan yang datang kemudian bisa dianggap sebagai bonus.
Di titik tersebut, seseorang tidak lagi sibuk bertanya:
“Apakah orang lain mengakui saya?”
Tetapi mulai fokus pada:
“Apa yang bisa saya hasilkan berikutnya?”
Pertanyaan kedua jauh lebih penting bagi seorang kreator.
Tidak Perlu Meminta Pengakuan dari Semua Orang
Pada akhirnya, tidak semua orang akan menyukai karya kita.
Ada yang memberikan apresiasi. Ada yang biasa saja. Ada pula yang mungkin menganggap pencapaian kita tidak terlalu penting.
Itu merupakan hal yang wajar.
Kita tidak bisa memaksa semua orang untuk mengakui kemampuan kita.
Kalau sebuah karya memang memiliki nilai, biarkan waktu, pengalaman, dan respons pengguna yang memberikan jawabannya.
Karena pengakuan yang paling kuat bukan selalu berasal dari seseorang yang berkata, “Kamu hebat.”
Terkadang pengakuan justru terlihat dari karya yang terus digunakan, pengalaman yang terus bertambah, dan hasil yang bisa dilihat oleh orang lain.
Jadi, menunjukkan pencapaian bukan berarti selalu haus validasi.
Ada kalanya seseorang hanya sedang menceritakan perjalanan yang memang sudah dibuktikan oleh karya.
Tidak perlu meminta semua orang mengakui kita. Kalau karya memang berbicara, biarkan karya itu yang menyampaikan siapa kita.

Komentar
Posting Komentar