Awalnya saya mengira membuat akun TikTok tetap aktif itu hanya soal rajin upload. Selama ada video baru, ada yang menonton, lalu sesekali masuk FYP, rasanya sudah cukup.
Ternyata setelah cukup lama menggunakan TikTok, saya mulai menyadari ada hal lain yang tidak kalah penting, yaitu bagaimana kita mengatur jenis konten yang ada di dalam akun.
Bukan berarti sebuah akun harus punya satu topik saja. Saya sendiri justru lebih suka membuat konten yang beragam. Kadang membahas teknologi, kadang TikTok, kadang pengalaman sebagai kreator, dan sesekali membagikan hal-hal yang menurut saya menarik.
Namun ada dua jenis pembahasan yang menurut saya sebaiknya tidak dicampur sembarangan: agama dan politik.
Bukan karena kedua topik tersebut tidak boleh dibicarakan. Keduanya adalah bagian dari kehidupan masyarakat dan tentu saja punya ruang untuk dibahas. Masalahnya adalah ketika akun yang awalnya dibuat untuk hiburan, informasi, atau kreativitas tiba-tiba berubah menjadi tempat perdebatan yang tidak ada habisnya.
TikTok Itu Tempat Banyak Karakter Bertemu
Salah satu hal menarik dari TikTok adalah penggunanya sangat beragam.
Ada yang membuka TikTok untuk mencari hiburan. Ada yang ingin belajar. Ada yang mencari tutorial. Ada juga yang hanya ingin melihat video pendek sambil mengisi waktu luang.
Karena penggunanya beragam, cara orang menerima sebuah konten juga berbeda-beda.
Konten yang menurut kita biasa saja bisa dianggap menarik oleh orang lain. Sebaliknya, sesuatu yang menurut kita sangat penting belum tentu dianggap penting oleh pengguna lain.
Di sinilah saya merasa kreator perlu sedikit berhati-hati ketika membawa topik yang sangat sensitif ke dalam akun.
Agama dan politik termasuk pembahasan yang mudah membuat orang memiliki pendapat berbeda.
Kalau perbedaan tersebut dibicarakan dengan tenang tentu tidak menjadi masalah. Yang sering menjadi persoalan justru ketika kolom komentar berubah menjadi arena saling menyerang.
Awalnya hanya satu komentar.
Kemudian dibalas.
Dibalas lagi.
Lalu muncul akun lain yang ikut berkomentar.
Akhirnya video yang sebenarnya dibuat untuk berbagi informasi malah dipenuhi perdebatan.
Bukan Berarti Harus Takut Membahasnya
Menurut saya, memisahkan konten agama dan politik bukan berarti kreator harus takut membicarakan kedua hal tersebut.
Setiap orang tentu mempunyai kebebasan untuk menentukan topik kontennya masing-masing. Hanya saja, sebelum mengunggah sesuatu, ada baiknya kita memahami konsekuensinya.
Misalnya, sebuah akun selama ini dikenal membahas tutorial TikTok dan teknologi. Tiba-tiba hampir setiap hari mengunggah pernyataan politik.
Pengikut yang awalnya mengikuti karena ingin mendapatkan tutorial bisa saja merasa bingung.
Begitu juga dengan akun yang awalnya berisi konten umum kemudian berubah menjadi tempat perdebatan agama.
Masalahnya bukan sekadar jumlah penonton.
Identitas akun juga bisa menjadi tidak jelas.
Pengikut pun akhirnya datang dengan ekspektasi yang berbeda-beda.
Algoritma Bukan Satu-satunya yang Perlu Dipikirkan
Banyak kreator sering membicarakan algoritma TikTok ketika membahas kesehatan sebuah akun.
Memang algoritma penting. Tetapi menurut saya, kesehatan sebuah akun tidak hanya ditentukan oleh algoritma.
Ada juga kesehatan komunitas di dalamnya.
Kalau setiap kali upload video selalu muncul pertengkaran di komentar, lama-lama kreatornya sendiri bisa lelah.
Belum lagi harus membaca komentar yang saling menyerang, membalas pendapat orang, atau bahkan menghadapi pengguna yang sengaja memancing emosi.
Padahal membuat konten seharusnya bisa menjadi aktivitas yang menyenangkan.
Karena itu saya lebih memilih berhati-hati dalam menentukan batasan konten.
Bukan berarti semua topik harus dipisahkan secara kaku. Tetapi untuk topik yang berpotensi menimbulkan perdebatan panjang, saya rasa perlu dipikirkan lebih matang.
Kalau Mau Membahas Agama, Fokus pada Nilainya
Menurut saya, pembahasan agama di media sosial akan lebih nyaman jika disampaikan dengan cara yang tidak menjadikan kelompok lain sebagai sasaran.
Misalnya membahas pengalaman pribadi, nilai kebaikan, motivasi, atau pelajaran yang bisa diambil dari sebuah kejadian.
Dengan begitu, konten tidak harus berubah menjadi pertandingan tentang siapa yang paling benar.
Begitu juga ketika membahas politik.
Daripada membuat konten yang isinya hanya memancing pendukung satu pihak untuk menyerang pihak lain, akan lebih sehat jika pembahasannya diarahkan pada informasi, pengalaman, atau sudut pandang yang disampaikan secara bertanggung jawab.
Perbedaan pendapat tetap akan ada.
Tetapi perbedaan pendapat tidak harus berubah menjadi permusuhan.
Jangan Sampai Satu Video Mengubah Suasana Akun
Saya pernah melihat akun yang awalnya terasa santai dan menyenangkan. Kontennya beragam, komentarnya juga cukup positif.
Namun setelah mulai sering memasukkan topik yang sangat sensitif, suasana di kolom komentar ikut berubah.
Yang dibicarakan bukan lagi isi video.
Orang justru sibuk memperdebatkan pilihan, keyakinan, atau pandangan masing-masing.
Di titik itu saya mulai memahami bahwa kreator bukan hanya bertugas membuat video.
Kreator juga perlu memikirkan lingkungan seperti apa yang ingin dibangun di dalam akunnya.
Kalau ingin akun menjadi tempat berbagi informasi dan kreativitas, tentu akan lebih nyaman jika suasananya tetap terjaga.
Akun Sehat Bukan Berarti Harus Selalu Serius
Ada satu hal lagi yang menurut saya penting.
Menjaga akun tetap sehat bukan berarti semua kontennya harus serius dan membosankan.
Justru konten yang ringan, informatif, kreatif, dan menghibur masih bisa dibuat sebanyak mungkin.
TikTok memang tempat yang sangat luas. Kita bisa membahas banyak hal tanpa harus membawa semua persoalan ke dalam satu akun.
Buat saya pribadi, keberagaman konten tetap menarik selama masih ada batas yang jelas.
Kalau akun dibuat untuk berbagi pengalaman sebagai kreator, misalnya, maka pembahasan tentang proses membuat konten, teknologi, TikTok, dan berbagai hal menarik lainnya masih bisa berjalan berdampingan.
Tetapi untuk agama dan politik, saya merasa perlu ada pertimbangan ekstra.
Kalau Bukan Ahlinya, Kenapa Harus Memaksakan Diri?
Menurut saya, ada satu hal yang sering dilupakan kreator ketika membuat konten, yaitu mengetahui batas kemampuan diri sendiri.
Kalau kita memang ahli dalam teknologi, kenapa tidak lebih banyak membahas teknologi?
Kalau punya pengalaman di bidang kuliner, kenapa tidak berbagi pengalaman tentang makanan?
Kalau memiliki kemampuan membuat efek TikTok, editing video, desain, fotografi, atau bidang lainnya, justru itulah yang bisa menjadi kekuatan sebuah akun.
Sebaliknya, kalau kita bukan orang yang memahami agama secara mendalam, sebaiknya jangan merasa harus menjadi ahli agama hanya karena ingin membuat konten.
Begitu juga dengan politik.
Mengikuti berita politik bukan berarti otomatis membuat seseorang menjadi ahli politik. Membaca pendapat orang lain juga belum tentu cukup untuk membuat kesimpulan yang benar.
Di media sosial, satu kalimat yang keliru bisa dengan mudah dipotong, dibagikan ulang, kemudian menimbulkan salah paham.
Karena itu, menurut saya, kreator tidak harus membahas semua hal hanya demi mendapatkan penonton.
Fokus pada kemampuan yang memang kita miliki justru bisa menjadi identitas yang lebih kuat.
Kalau sejak awal orang mengenal sebuah akun karena kontennya bermanfaat, lama-kelamaan akun tersebut bisa memiliki ciri khas sendiri.
Misalnya ada kreator yang dikenal karena tutorial TikTok. Ada yang dikenal karena tips fotografi. Ada yang dikenal karena membahas teknologi. Ada pula yang dikenal karena kemampuan editing atau membuat efek.
Tidak perlu menjadi ahli dalam segala hal.
Menjadi cukup dikenal karena satu kemampuan yang memang kita kuasai terkadang jauh lebih berharga daripada mencoba membahas semua topik tetapi tidak benar-benar memahami isinya.
Bagi saya, ini bukan soal membatasi kreativitas.
Justru sebaliknya, kita sedang menentukan di mana kita paling bisa memberikan nilai.
Agama dan politik tetap bisa dipelajari. Kalau suatu saat kita memang memiliki pengetahuan yang cukup untuk membahasnya secara bertanggung jawab, tentu pembahasannya bisa dilakukan dengan lebih matang.
Tetapi kalau belum memiliki pengetahuan yang memadai, tidak ada salahnya mengatakan, “Saya tidak tahu.”
Menjadi kreator bukan berarti harus selalu punya jawaban untuk semua hal.
Kadang-kadang, mengetahui apa yang tidak kita kuasai justru merupakan bagian dari menjadi kreator yang lebih dewasa.
Kesimpulannya, Bukan Dilarang, Tetapi Dipisahkan
Jadi, ketika saya mengatakan “akun TikTok mau sehat, jangan campur kedua hal ini”, maksudnya bukan melarang orang membahas agama atau politik.
Keduanya tetap mempunyai tempat untuk dibicarakan.
Yang saya maksud adalah jangan sembarangan mencampurkan konten agama dan politik ke dalam akun yang sebelumnya memiliki tujuan dan karakter berbeda, apalagi jika akhirnya membuat akun berubah menjadi tempat perdebatan tanpa ujung.
Kalau memang ingin membuat konten politik, buatlah dengan konsep yang jelas.
Kalau ingin membuat konten agama, sampaikan dengan cara yang bijak dan menghargai perbedaan.
Sementara itu, kalau akun utama memang dibuat untuk hiburan, teknologi, kreativitas, atau berbagi pengalaman sebagai kreator, tidak ada salahnya mempertahankan identitas tersebut.
Pada akhirnya, akun TikTok yang sehat bukan hanya soal jumlah views, followers, atau seberapa sering masuk FYP.
Menurut saya, akun yang sehat adalah akun yang masih membuat kreatornya nyaman untuk terus berkarya, sekaligus membuat orang lain nyaman berada di dalam komunitasnya.
Karena mendapatkan jutaan views itu menyenangkan.
Tetapi memiliki akun yang tetap nyaman dikelola dalam jangka panjang, menurut saya, jauh lebih berharga.

Komentar
Posting Komentar